Kamis, 20 Oktober 2011

Belajar Dari Kisah Sepatu


Suatu hari di beranda sebuah rumah, tepatnya di rak sepatu yang terisi dengan beberapa pasang sepatu terjadilah ribut-ribut antara 2 pasang sepatu. Sepasang sepatu yang pertama disebut dengan Sepatu A dan sepatu yang kedua disebut dengan Sepatu B.

Saat itu, sepatu A baru saja dipakai untuk jalan-jalan oleh tuan nya. Keadaan sepatu A sudah kotor dan jahitan sepatunya sudah sedikit terbuka. Sedangkan sepatu B masih bersih dan kinclong karena memang sepatu B ini hampir tidak pernah dipakai oleh tuannya.


“Yah, kasian sekali kamu A, hampir tiap hari dipakai oleh tuan. Kayak aku dong, hidup santai – santai aja dan selalu bisa beristirahat di rak” kata Sepatu B meledek Sepatu A.


“Loh?! Dasar kamu ini, lebih baik aku dipakai terus daripada nganggur kayak kamu” sahut si Sepatu A membalas.


“Jangan sok baik kamu! Lihat, gara-gara dipakai terus badan kamu sudah mulai terlihat tidak indah lagi. Kamu pasti iri sama badanku yang masih mulus ini” kata Sepatu B yang masih ngotot.


“Bukannya aku sok baik, tapi lebih baik aku rusak , hancur karena terpakai dan bermanfaat bagi manusia dibandingkan aku harus rusak karena hancur sendiri di sebuah rak sepatu karena terkena proses alami menjadi debu. Aku tidak mau hancur sia-sia seperti itu”


“Apa maksudmu?! Kamu mau menyindir aku karena aku tidak pernah terpakai dan akan hancur sendirinya?!


Sepatu B pun mulai panik dan marah. “Tidak, aku tidak menyindirmu kok. Kita ini adalah sepatu, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa apabila kita ini tidak dipakai, lama lama akan hancur dan rapuh sendirinya menjadi debu. Jadi bukan berarti santai-santai dan tidak pernah dipakai itu kamu senang. Harusnya kamu was-was, karena kamu itu bisa hancur sia-sia. Sayang potensi dan bakat mu untuk melindungi kaki manusia tidak terpakai”

Sepatu B pun termenung sejenak dan tidak dapat berkomentar lagi. Ia memikirkan bagaimana nasib nya sekarang.

“Sekarang kita lihat, aku mungkin sudah mulai tidak indah. Kotor dan jahitan sudah mulai lepas. Tapi aku akan bertahan lebih lama dari mu, karena aku sudah sering terlatih untuk menjadi lentur dan kuat. Aku terbiasa dalam segala keadaan, mau itu panas, dingin, becek, licin. Makanya aku menjadi sepatu yang kuat walaupun tidak nampak begitu indah dari luar.” Kata Sepatu A yang kembali menjelaskan.


“Maafkan aku ya A, aku telah mengejekmu. Ternyata kamu lebih bermanfaat dari aku, dan aku ini seperti sepatu sia-sia saja. Semoga aku dapat bermanfaat di hari depan. Terima kasih ya telah menyadarkan ku” jawab Sepatu B yang telah sadar.


Cerita tadi adalah suatu cerita yang sebenarnya dapat kita gambarkan sebagai cerita tentang diri kita masing-masing. Sepatu B itu kita, dan Sepatu A adalah orang tua / guru / teman kita yang sering kali mengingatkan kita.
Kita dapat belajar dari cerita tadi bahwa kita terlahir sebagai manusia adalah suatu KARUNIA YANG BAIK. Karena di dunia manusia inilah kita dapat sebanyak-banyaknya menanam bibit kebajikan dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagai manusia, kita semua memiliki potensi dan bakat masing-masing, tapi sering kali kita sia-siakan begitu saja dan tidak mau mengasahnya. Kita itu sering kali hanya mau ENAK-ENAKAN dan tidak mau merasakan PAHIT terlebih dahulu. Padahal hal itulah yg memperkuat mental kita.

Potensi dan bakat itu harus di asah dan dipakai. Apabila tidak, akan terbuang sia-sia begitu saha. Janganlah hanya berdiam diri, tapi galilah potensi dan bakat yang ada di dalam diri kita. Walaupun itu harus terluka dan gagal. Itu akan menjadi modal kita untuk sukses dan bermanfaat bagi orang lain. Contoh lain, apabila seorang yang sudah 2 tahun belajar bahasa Mandarin di China, lalu setelah pulang ke Indonesia tidak pernah melatih dan menggunakan bahasa Mandarin yang telah dipelajarinya, apakah 1 tahun ke depan ia masih tetab bisa berbahasa Mandarin? Bisa, tapi kemampuan nya terus berkurang tiap hari nya. Mungkin beberapa tahun lagi ia akan lupa total bila tidak pernah mengasahnya lagi.


Intinya adalah Kita jangan takut untuk menggali potensi dan bakat diri kita dan harus mengasah, menggunakannya baik-baik agar tidak menjadi sia-sia dan hilang begitu saja.


“Lebih baik mati dalam perang dan kalah dalam pertandingan secara terhormat dibandingkan hanya berdiam diri dan tidak bertempur / tidak bertanding sama sekali.”


Dari cerita di atas juga kita belajar dari sikap Sepatu A, yaitu bijaksana. Sudahkah kita bijaksana hari ini? Sepatu A menanggapi ledekan Sepatu B dengan sikap tenang tanpa menggunakan nada tinggi. Begitulah harusnya manusia yang bijak menanggapi segala sestau dengan tenang dan kepala dingin. Karena dengan sikap tenang, lawan bicara kita pun akan menjadi kalem dengan sendirinya. Begitu juga dengan Sepatu A yang mau mengingatkan Sepatu B yang telah terjerumus. Itulah fungsi manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Yaitu saling mengingatkan kepada teman untuk tetap berada direl dan jalur yang benar.


Saya mau SUKSES dan JUARA, tapi saya kemungkinan akan mengalami GAGAL dan KALAH. Karena itu semua adalah proses pembelajaran bagi diri saya untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your IP and Google Map location